Monday, 4 February 2013

novel karya gue



YANG TAKKAN PERNAH HILANG
AKU DAN NENEK
Salsabila Canda Kirana itu
lah namaku, orang tuaku dan teman-temanku sering menyebutku dengan panggilan Lala, mungkin mereka nyaman apabila memanggilku dengan sebutan itu, padahalkan namaku bukan itu, namaku lebih indah dari pada sebutan itu, ya sudahlah lupakan, mungkin itu sudah kebiasaan mereka menyebutku dengan sebutan Lala.
Sewaktu aku kecil, aku tinggal bersama kakek nenekku dan paman bibiku, disana aku sangat disayang dan dimanja, apa yang ku inginkan pasti dibelikan, padahal aku bukan cucu bungsu bagi kakek dan nenek, aku pun mempunyai 4 saudara yang lebih kecil dibandingkan aku, meskipun nenek menyayangi mereka juga tetapi nenek tak memanjakan mereka, hanya aku saja yang dimanjanya. Aku dan nenek bagaikan lem dan prangko, apabila ada aku pasti ada nenek. Aku sangat menyayanginya lebih dari diriku sendiri.
Tak terasa aku sudah 4 tahun hidup bersama nenek dan sodara-sodaraku, aku pun harus terpaksa kembali hidup bersama kedua orang tuaku dan adik-adikku, karena ibuku ingin aku kembali pulang. Berat rasanya meninggalkan nenek begitu saja. Saat aku kan pergi nenek tak sanggup menahan air matanya dihadapanku, begitupun aku. “Lala jangan nakal ya!” seru nenek ketika aku kan pergi. Kata-kata itu kan selalu ku ingat.
Setiap sebulan sekali nenek selalu datang untuk menemuiku dan selalu membawakan makanan kesukaanku yaitu ‘rendang’. Aku sangat suka dengan rendang buatan nenek dibandingkan dengan buatan ibuku yang selalu saja alot apabila dimakan. Ibu tidak terlalu pandai dalam memasak, karena itu setiap ibu memasak kadang-kadang keasinan, lupa memasukan garamlah dan lain sebagainya, mungkin kalau aku ceritakan semua ibu bisa-bisa marah padaku, meski begitulah kenyataannya.Tak seperti biasanya nenek sekarang mengunjungiku 5 bulan sekali, hmmm aku pikir mungkin nenek sibuk dengan urusanya sebagai bendahara senam di sekitar Jakarta Utara, dan atau mungkin alasan lain nenek tak mengunjungiku seperti biasanya.
Kehidupan bersama kedua orangtuaku tak begitu buruk, meski aku tak dimanja seperti ketika ku tinggal bersama nenek di Jakarta, tetapi belum sampai 1 tahun aku berada di sini di tempat ibuku yg berada di Sukabumi aku sudah mempunyai banyak teman, tetapi aku mempunyai satu teman yang istimewa.
TEMAN ISTIMEWA
Ku yakin kalian semua menganggap teman istimewa adalah kekasih, tapi bukan dengan apa yang ku maksud. Teman istimewa adalah teman yang selalu menyemangatiku, yang selalu menghiburku ketika aku rindu nenek, yang selalu ada di sampingku ketika aku membutuhkannya, teman yang selalu membenarkanku ketika aku salah. Sebut saja dia Gadis, hmmm meskipun sebenarnya itu bukan namanya, hanya dia ingin disebut Gadis, karena memurutnya itu julukan yang bagus untuknya, memang ku akui dia cantik, berkulit putih, dan pintar, tapi sebenarnya dia itu bernama Irma. Akh aku sering menyebutnya dengan sebutan Irma saja, karena aku lebih suka nama Irma dibandingkan dengan Gadis, karena menurutku nama gadis itu seperti orang dewasa yang selalu mementingkan makeup, trendy, dan seringkali bersikap alay gitu deh. Irma sering marah-marah saat aku memanggil dia dengan sebutan Irma, akh bodo amet yang jelas aku tidak suka menyebutnya dengan sebutan Gadis.
Aku berteman dekat dengannya, di sekolah aku sebangku dengannya, rumahku bersebelahan dengan rumahnya, dan aku setiap hari pasti bermain dengan anak itu. Sampai-sampai aku dan Irma di juluki seperti sepupu. Sudahlah aku tak pernah memikirkan itu sama sekali, karena menurutku tak ada salahnya mereka menilai kami bersaudara.
Tak  terasa aku sudah menginjak bangku kelas 2 SMP, dan rasanya aku mulai menyukai lawan jenisku. Aku selalu bercerita tentang hal ini kepada Irma sahabatku, sampai-sampai aku rela membuat puisi ditengah malam hanya untuk cowo taksiranku, supaya tidak di ganggu oleh adik-adiku.
Lihat lah diriku kasih
Aku disini hanya untukmu
Menunggu dirimu datang kepadaku
membawakanku setangkai bunga mawar
memandangi indah dunia ini denganmu
menatap indah wajahku dimatamu
kasih..kapan kau berbuat seperti itu kepadaku,
aku menunggumu dan berharap.
Aku selalu menanyakan tentang siapa cowo itu kepada teman-teman, dan selalu memandanginya setiap aku melihatnya. “woy kamu lagi ngapain La,senyum-senyum sendiri kaya orang kesambet?” Tanya Irma sambil duduk di sebelahku. “akh kamu Ir ngagetin aja, kirain siapa”jawabku dengan kesal.
“biasa aja kali La serius amat”sindirnya. “ekh kamu liat ga Ir cowo yang lagi duduk sama teman-temannya yang lagi makan bakso itu?”tanyaku. “oooh itu sih aku tau”jawabnya dengan santai”. “Siapa Ir?”tanyaku lagi dengan nada penasaran.”siapa aja boleh,emangnya kenapa?naksir ya kamu La?ehemm hemm” Tanyanya sambil menyindir,dan langsung meninggalkanku sendiri dikantin. “Ir ikh kamu pelit banget sih, please kasih tau aku dong Ir! “pintaku dengan kesal. “iya nanti aja aku ceritain, aku mau masuk kelas dulu”bantahnya.
Bel berbunyi bertanda jam pelajaran habis, dan saatnya ‘Go to home’, selama diperjalanan aku bersikeras bertanya bertanya dan bertanya tentang sipujaan hatiku kepada sahabatku yang menyebalkan itu. “Gadis pleaseee ceritain aku tentang cowo yang dikantin tadi”pintaku. “kalau ada maunya aja kamu memanggilku dengan sebutan Gadis!”sindirnya. “please tolong sahabatmu ini lah Dis!”mohonku. dan akhirnya Irma menceritakan kepadaku tentang cowo yang dikantin. “sudah ya ceritanya, dah sampe di depan rumah tuh!”jelasnya.”hehehe tanks ya sahabatku yang paling cantik, baik hati dan tidak sombang”rayuku sambil melangkah masuk kedalam rumah.
“Duh senangnya! Akhirnya aku tau siapa cowo pujaan ku itu”bisikku dalam hati. “Tapi aku heran, kenapa Irma bisa tau semua tentang cowo pujaanku itu yang bernama Kilan, dan dia adalah kaka kelas kita!”tanyaku dalam  hati penasaran. “Hmmm mungkin hanya kebetulan saja”bantahku lagi dalam hati.
 Tak terasa aku mengagumi cowo yang bernama Kilan itu sudah hampir 2 bulan,aku semakin mengaguminya dan seringkali memandanginya ketika berada di kantin. Akupun selalu bercerita tentang Ka Kilan kesahabatku yang super duper sibuk dengan urusannya, tapi Irma cuek saja dengan ceritaku, aku inginnya sih dia membantu sahabatnya ini untuk dekat dengan Ka Kilan sang ketua Osis itu, sampai-sampai aku memaksanya untuk melakukan itu. Akhirnya Irma mau membantuku (hm kayanya sih dia terpaksa). Dan akhirnya Irma berhasil mendapatkan nomor Hp  Ka Kilan dan memberikanya kepadaku. Akupun sering smsan ma Ka Kilan dan menanyakan Apakah dia sudah mempunyai kekasih. Taukah kalian dia menjawab apa? Ternya dia sudah mempunya kekasih. Tapi Ka Kilan ga pernah memberi tau siapa cewe yang ada di hatinya itu.

HANCUR
Tak percaya, ternyata Ka Kilan sudah punya pacar, tapi kenapa Ka Kilan ga mau ngasih tau siapa pacarnya itu kepadaku?”  tanyaku dalam hati sambil membanting buku”.
Sejak saat itu aku ga pernah sms Ka Kilan lagi, rasanya aku ga perlu mengganggu hidupnya lagi, meskipun aku masih memendam rasa terhadapnya.
Sudah hampir sebulan ku mencoba melupakan Ka Kilan. Tapi selalu saja teringat bayangnya dalam benakku, sampai akhinya aku nekat mencoba menyelidiki siapa sebenarnya pacar Ka Kilan.
Ya tuhan mengapa engkau tega terhadapku, apakah kau lebih menyanyangi Irma sahabatku dibandingkan denganku? “rintihku dalam hati”.
 “Irma kamu harus jujur, ada hubungan apa kamu dengan Ka Kilan?, Jawab Ir? “bentakku terhadapnya”. “aaaa anu La a a anu, Ka Kilan sebenarnya pacarku, kamu ga marah kan La “jawabnya sambil menunduk”. “apa lo bilang Ir, ga marah? Yah pasti gue marah lah ma lo, lo ga jujur ma gue Ir, lo munafik Ir. jangan harap gue mau jadi sahabat lo lagi dan jangan pernah lo deketin gue lagi. Lo udah hancurin hati gue Ir, lo jahat Ir, gue benci lo, “tanganku mendorongnya dan pergi meningggalkanya”. “Irma tau La, Irma salah! tapi jangan begini La, La,,Lalaaaa?” teriaknya dalam tangisnya.
“Betapa pedihnya hati ini, baru pertama merasakan apa itu cinta, sudah merasakan pula sakitnya cinta” tetesan air matapun mulai menetes di kasur kamarku. “La, Lala?” tangis Bunda sambil membuka pintu kamar. “Kenapa  bunda? Ada apa?”tanyaku dengan penasaran. “nenek La, nenek?” tangisnya. Kenapa bunda, ada apa dengan nenek?”hampir menangis. “ nenek meninggalkan kita La, nenek telah tiada”isak tanginya semakin kencang. “bunda bohong kan? Bunda jangan gitu ah ga lucu” tiba-tiba air mataku pun mulai menetes dan merasa itu bohong. “bunda ga bohong La, bunda jujur” menundukkan kepalanya kebahuku. Dengan tiba-tiba tubuhku terkulai lemas dan akhirnya aku ga sadar apa-apa.
Kepalaku terasa berat, badanku lemas tapi masih mampu aku berdiri. Tiba-tiba aku baru sadar, ternyata aku sekarang berada di Jakarta setelah aku pingsan kurang lebih 5 jam. “neneeeek neneeek..
kenapa nenek ninggalin Lala? Apa nenek ga sayang lagi sama Lala? Nek bangun Nek bangun”tangisku dihadapan jenazah nenek. “Bunda nenek bunda!”memeluk bunda”. Gaaaa, nenek ga meninggal, nenek ga mungkin tinggalin Lala”teriaku mengalihkan pandangan orang lain. “Lala kamu ga boleh gitu sayang, nenek udah tenang di alam sana!” seru bunda”. “Bunda nenek benci ya sama lala? Kenapa udah dua tahun nenek ga nengok Lala di Sukabumi, sampai hati Lala hampir hancur karna cinta, nenek pun ga tau soal itu”. Tangisku di pelukakan bunda. “maaf  La bunda selama ini bohong sama Lala, bunda ga mau liat Lala sedih karena nenek sakit parah, selama ini nenek mengidap penyakit kangker Rahim, nenek sudah stadium 3, dan tak mungkin dapat disembuhkan lagi!” tangispun semakin deras di mata bunda”. “bunda jahat ma Lala, bunda udah bohongin Lala, hati Lala semakin hancur bunda, sakit,,sakit hati Lala bunda”memukuli lantai.
Sampai pemakaman selesai, air mataku masih memancarkan kesedihan yang ku alami, kesedihan yang begitu menyiksaku, kesedihan yang mewakili perasaanku bahwa hatiku hancur.
Ya allah, kenapa engkau membuat hati ini begitu perih, kenapa engkau selalu membuat hati ini rapuh. Cobaan apa lagi ya allah yang harus aku terima..? letih  jiwa ini, Kering sudah air mata ini menanggung semua cobaan darimu.
 Berminggu-minggu sudah aku berada di Jakarta, letih dengan keadaanku seperti ini, ingin mencoba melupakan semua dengan kembali ke rumahku, dimana di sana ada seorang sahabat yang ikut menghancurkan hatiku.
Setelah kejadian itu, aku menjadi pendiam. Temen-temenku yang lain selalu bertanya kepadaku, kenapa aku menjadi seperti ini? Sosok Lala yang baik hati, lembut, semangat, tegar, rendah hati dan selalu ceria sekarang bukan sosok Lala lagi, seorang Lala yang pendiam, yang menyiksa dirinya sendiri dengan air mata, Lala yang lemah, Lala yang jahat yang tega-teganya membenci sahabatnya sendiri.
 Saat ku sudah hampir putus asa, ada sosok seseorang yang mengembalikan semangatku dan senyumku. bukan mantan sahabatku Irma, dan bukan pula Ka Kilan kekasih Irma, tapi melainkan sosok seseorang yang sangat dekat denganku, bukan pacarku atau sahabatku, tapi dia adalah orang yang sangat menyukai sahabatku Irma, yang memaksa-maksaku untuk mencomblangkannya dengan Irma, dia sering cerita tentang perasaannya terhadap Irma.
Sekarang aku biasa merubah hidupku seperti semula, dan sekarang Andy menjadi sahabatku, dialah yang mengembalikan senyumku yang manis. Kami sering ngobrol di sekolah,bercanda-canda, dan dia juga suka telaktir aku (hehehe biasa cewe maunya gratisan).

KEHIDUPAN BARU
Selamat tinggal hari-hari galau ku, selamat datang hari indahku. Itu lah kata yang pertama ku ucapkan sejak mengenal Andy, cowo baik hati dan tampan itu, baru sebentar aku mengenalnya, tapi serasa aku sudah lama mengenalnya. Lama-kelamaan, aku merasa ada sesuatu yang pernah aku rasakan sebelumnya. Hmmm rasa apa ya?, akh kalian juga pasti tau. Tapi aku gak berani mengungkapkanya, karena aku takut sakit hati untuk kedua kalinya. Sejujurnya aku merasakan Andy juga suka sama aku, masa ngapain coba dia ngedeketin aku, sms aku, nelponin aku kalau dia ga suka sama aku (GR banget sih aku.hehee).
Ekh ternyata dugaanku benar, Andy menyukai aku, dia sendiri yang menyatakannya. Tapi dia ga maksa aku untuk menerimanya, karena dia tau aku pernah sakit hati karna persoalan itu.
 “halo La, kamu lagi ngapain?” di telepon. “oh kamu Ndy (panggilan akrab), ah biasa, aku lagi baca novel. Ada apa Ndy?”tanyaku. “ah ngga ko ga ada apa-apa, tapi sebenernya sih ada apa-apa.. hehe”tawanya terdengar. “Hehe bisa aja kamu Ndy. Sebenernya ada apa Ndy, kayanya serius amet”tanyaku penasaran. “A a anu La, se se benernya a a aku mau ngomong i i ini udah lama La”gagapnya kambuh lagi. “ mau ngomong apa sih Ndy kamu, sampe gugupnya kambuh lagi?hahaha”ledekku. ah ka ka kamu La ma malah ngetawain a a aku, a aku kan jadi ma ma malu La. Se serius di dikit donk La, a a aku ga la lagi bercanda nih”jawabya. “iya maaf deh, kamu mau ngomong apa?”tanyaku lagi (sebenernya sih aku tau dia mau ngomong apa,tapi aku pura-pura ga tau aja), “duh hatiku dag dig dug nih”bisikku dalam hati. “se sebenernya a a aku su suka sa sama ka kamu La da dari dulu, a a aku pura-pura su suka sama Irma sa sahabatmu bi biar bisa deket sa sa sama kamu La, ka kamu jangan marah ya La!”suaranya makin membaik. “ngga ko aku ga marah sama kamu ndy, jujur aku juga suka sama kamu, tapi aku takut sakit hati lagi Ndy, karna kalau pacaran itu pasti berakhir dengan menyakitkan, maaf kan aku ya Ndy, bukanya aku menolak” tegasku. “iya ga apa-apa ko La, aku tau kamu trauma, aku pun sama sepertimu la, pernah ngerasain bagaimana rasanya sakit hati, tapi kamu masih maukan berteman dan menjadi sahabatku lagi?”tanyanya. “ya iya lah Ndy kamu kan sahabat terbaikku aku”jawabku.
Sejak kejadian itu aku semakin yakin kalau andy adalah sahabat yang baik. Dan Andy pun semakin sering bermain denganku. Tapi ada hal lain yang mengganjal di hatiku tentang “sahabatku Irma”.
 “aku kangen sama kamu Ir, aku ingin bersamamu lagi seperti dulu”bisiku dalam hati ketika melihat Irma duduk sendiri di kantin sekolah sambil melamun. “La kamu ga kasian ya sama Gadis, dia itu di putusin ma pacarnya, ternyata pacarnya itu mendua kan Gadis, kasian dia La”tiba-tiba suara Andy terdengar begitu saja. “Eh kamu Ndy, kirain siapa”jawabku dengan kaget. “La, aku perhatiin kamu masih sayang sama Gadis, La kamu jangan korbanin perasaan kamu hanya karena kamu egois La, inget! Dia itu sahabat dari kecil mu, masa Cuma gara-gara persoalan sepele kamu memutuskan persahabatan kalian” sambil duduk di sebelahku. “Emmm  tapi”gugup. “tapi apa La, kamu masih sayang kan sama Gadis?, sekarang kamu harus samperin dia. Ettt tampa tapi,hehehe”sanggahnya.

PERPISAHAN TERMANIS
“Ir?”mendekatinya. “La,, maafin aku La, aku salah La, karena sikapku kamu menjauhiku La, maafin aku La” menangis sambil merangkul ku. “kamu ga salah apa-apa Ir, aku yang egois Ir sama kamu, jujur aku kesepian tanpa mu Ir”tangisku mulai hadir. “La kamu maukan jadi sahabatku lagi, aku sayang kamu La” dekapanya semakin erat. “dari dulu aku sudah maafin kamu Ir, aku juga sayang kamu Ir”senyumku mulai tumbuh. Tiba-tiba Andy datang menemui kamu berdua dan memecahkan keharuan kami dengan tawanya yang khas.
Andy, Irma, dan aku sekarang menjadi sahabat baik dan takkan pernah terpisahkan. Sampai akhirnya kami pindah sekolah ke SMA yang berbeda. Andy pindah ke bandung,                       Irma melanjutkan sekolah ke SMA favorite di Jakarta Pusat dengan beasiswa, sedangkan aku melanjutkan sekolah di SMA terfavorite di Jakarta Utara dengan menggunakan beasiswa juga. Sebelum kami berpisah, kami mengadakan pesta perpisahan di rumahku, dan andy memberikan kalung khusus yang berinisial nama kita bertiga LAI (Lala, Andy, Irma). Andy memberikanya kepadaku dan Irma, dan dia sendiri memakai juga. “ini sebagai bukti persahabatan kita, ku harap kalian jangan melupakan aku, meskipun kita berjauhan” suaranya Andy dengan pelan. Kamipun menangis haru dan saling berpelukan mendengar kata-kata Andy yang sangat menyentuh hatiku.

SEMUA YANG TAKKAN PERNAH HILANG
Sekarang aku mengerti, yang takkan pernah hilang itu adalah kasih sayang. Dengan cara kita yang saling menyayangi satu sama lain, persoalan yang datang akan mudah di hadapi.
 Meskipun Andy adalah sahabatku yang baru, tapi aku takkan pernah melupakan Irma sahabatku sedari kecil, karena rasa saling menyanyangi itulah kami akhirnya dapat bersama-sama dan menakhlukan semua cobaan yang terjadi.  jarak dan waktu takkan pernah menghalangi kasih sayang kami, hingga suatu saat, rasa kasih sayang dan kerinduan yang mempersatukan kami lagi. Di dunia ini tak ada yang namanya mantan sahabat, karena sahabatlah yang membuat kasih sayang itu muncul dengan sendirinya dan tanpa di paksa ataupun di duga. Sahabat adalah teman terbaik dalam hidup yang keras dengan cobaan. Seperti yang di alami diriku sendiri, keegoisan hampir menghilang persahabatan, dan kasih sayanglah yang menyatukannya kembali.
Ibu, ayah, kakek, nenek, keluargaku, dan sahabat-sahabatku, teman-temanku. Disanalah aku mendapatkan kasih sayang yang utuh dan indah. Mungkin dahulu, aku pernah bertanya-tanya apa arti kasih sayang itu, tapi sekarang aku bisa menyadari, melihat, dan merasakan kasih sayang  yang sesungguhnya, meski orang itu telah tiada di samping kita tapi KASIH SAYANG TAK PERNAH HILANG UNTUK SELAMANYA 

 

No comments:

Post a Comment